Berjiwa Besar
Di suatu sore, saya melintas dibilangan Jakarta Selatan. Sejenak saya teringat bawa hari itu adalah hari pertunangan seorang sahabat baik saya dengan calon pendamping setianya kelak. Tertegun sesaat, mengingat diri saya sendiri. Ada rasa iri melintas sesaat mengingat sahabat saya itu jauh lebih muda dari dari saya. Dia sudah berani mengambil tantangan kehidupan yang jauh lebih sulit.
Suara hati yang paling dalam tiba-tiba mengingatkan saya, betapa banyaknya ukuran-ukuran yang kita pakai untuk melihat diri kita berhasil atau sukses dalam hidup ini. Celakanya semua ukuran itu dibuat oleh orang lain. Bukan ukuran yang memang fit untuk diri kita saat ini. Sering kita mengukur sukses kita dengan kacamata orang lain, bukan dari keinginan dari dalam diri kita sendiri.
Akhirnya kita sering meriang melihat tetangga sebelah pasang tv kabel baru. Jatuh sakit saat melihat garasi teman kita sudah terisi honda jazz terbaru. Buru-buru resign kantor saat melihat teman seangkatan kita dipromosi terlebih dahulu. Padahal semua itu justru tidak membebaskan kita, karena hal hal yang tampak dipermukaan seperti itu, yang tampaknya kita inginkan, ternyata bukan hal yang benar benar kita inginkan dilubuk kita yang paling dalam.
Bagaimana kalau memang karir, kekayaan, menikah memang impian kita? Saya yakin bahwa dunia ini diciptakan bukan untuk saling berlomba dimana sang pemenang adalah seorang yang mencapai garis finish terlebih dahulu. Saya bahkan percaya bahwa siapapun yang mencapai garis finish selambat apapun, juga layak disebut pemenang.
Sore itu saya kembali tersenyum. Seucap doa kecil saya lantunkan untuk kebahagiaan sahabat saya. Tak sabar untuk menghadiri pernikahannya di pertengahan tahun ini.
Suara hati yang paling dalam tiba-tiba mengingatkan saya, betapa banyaknya ukuran-ukuran yang kita pakai untuk melihat diri kita berhasil atau sukses dalam hidup ini. Celakanya semua ukuran itu dibuat oleh orang lain. Bukan ukuran yang memang fit untuk diri kita saat ini. Sering kita mengukur sukses kita dengan kacamata orang lain, bukan dari keinginan dari dalam diri kita sendiri.
Akhirnya kita sering meriang melihat tetangga sebelah pasang tv kabel baru. Jatuh sakit saat melihat garasi teman kita sudah terisi honda jazz terbaru. Buru-buru resign kantor saat melihat teman seangkatan kita dipromosi terlebih dahulu. Padahal semua itu justru tidak membebaskan kita, karena hal hal yang tampak dipermukaan seperti itu, yang tampaknya kita inginkan, ternyata bukan hal yang benar benar kita inginkan dilubuk kita yang paling dalam.
Bagaimana kalau memang karir, kekayaan, menikah memang impian kita? Saya yakin bahwa dunia ini diciptakan bukan untuk saling berlomba dimana sang pemenang adalah seorang yang mencapai garis finish terlebih dahulu. Saya bahkan percaya bahwa siapapun yang mencapai garis finish selambat apapun, juga layak disebut pemenang.
Sore itu saya kembali tersenyum. Seucap doa kecil saya lantunkan untuk kebahagiaan sahabat saya. Tak sabar untuk menghadiri pernikahannya di pertengahan tahun ini.


1 Comments:
Hehehehehe cinta memang tidak selalu memiliki to'...
thanks for u'r pray..loe ngomongin gue khan :-p
but anyway, gue do'ain dech moga-moga loe ada 'keberanian 'juga (regardless the pre-requisites yang loe pikirin sekarang :-p) untuk melangkah one step forward in your relationship.
Thanks for the pray-nya yack....
Post a Comment
<< Home